Baliinyourhands.com - Memang penting untuk sering-sering posting keseharian dalam rangka membangun personal branding?
Yuk, simak opini Adez Aulia, seorang pengamat dan praktisi AI pada artikel berikut ini.
Sahabat Online, pernahkah merasa terlalu fokus membangun kesuksesan orang lain hingga melupakan 'brand' diri sendiri?
Saya menghabiskan lebih dari 20 tahun membangun personal branding dan corporate branding untuk klien, namun ironisnya, mengabaikan personal branding saya sendiri.
Hal ini menjadi penyesalan terbesar karena kini saya menyaksikan begitu banyak praktisi muda yang berani membangun identitas digital mereka sejak awal dan menuai kesuksesan lebih cepat.
Kasus serupa dialami oleh Gary Vaynerchuk, CEO VaynerMedia, yang dilansir dari entrepreneur.com, mengakui bahwa ia menghabiskan 7 tahun pertama karirnya tanpa personal branding yang jelas sebelum akhirnya membangun empire bisnisnya.
Baca Juga: Geger Seorang Ibu Lapor Anaknya Diculik Ternyata Hanya Rekayasa, Ini Motifnya
Personal branding bukan sekadar tentang narsisme atau pamer, melainkan strategi yang memungkinkan Sahabat Online dikenal sebagai ahli di bidangnya.
Riset dari LinkedIn menunjukkan bahwa 82% klien lebih memilih bekerja dengan individu yang memiliki personal brand yang kuat dibanding yang tidak memilikinya.
Beruntungnya, era AI telah membuka peluang baru bagi siapapun untuk membangun personal branding dengan lebih efisien.
Baca Juga: Warna Baju yang Bisa Membuka Peluang Baru di Cinta dan Karier
AI seperti ChatGPT, Midjourney, dan Jasper dapat membantu memproduksi konten berkualitas secara konsisten, menganalisis tren audiens, hingga memberikan ide konten yang relevan dengan industri Sahabat Online.
Menurut studi dari Content Marketing Institute dilansir dari searchenginejournal.com, penggunaan AI dalam content creation dapat meningkatkan produktivitas hingga 67% dan memangkas waktu pembuatan konten hingga separuhnya.