umkm-bali

Suka Duka Mendirikan Komunitas: Antara Komitmen, Silent Reader, dan Dinamika Kepengurusan

Kamis, 18 September 2025 | 09:00 WIB
Tampak sebagian pendiri komunitas yang mengikuti Top 15 SheHacks PaPeDa 2025 (Image/DistaPerempuanBerdayaMagelang)

Baliinyourhands.com - Mendirikan komunitas sering kali terdengar mulia: ada semangat berbagi, keinginan memperluas jaringan, hingga mimpi menciptakan dampak sosial. Namun di balik euforia tersebut, realitasnya tidak selalu seindah yang dibayangkan.

Dita Suryo, pendiri komunitas Sinkola.id dan MomaKece.id, berbagi pengalamannya mengenai tantangan membangun komunitas, mulai dari menjaga komitmen anggota hingga menghadapi fenomena silent reader di WhatsApp Group.

Komitmen Anggota: Tantangan Abadi

Setiap komunitas berawal dari niat baik. Namun, mempertahankan komitmen anggota adalah cerita lain. “Antusiasme di awal biasanya tinggi, tapi seiring waktu, sebagian anggota mulai pasif. Tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga energi agar semua tetap merasa terlibat,” ujar Dita.

Baca Juga: Rahasia Wedang Bali Minuman Rempah Tradisional Dengan Khasiat Sehat Dan Rasa Hangat

Komitmen bukan hanya soal hadir dalam pertemuan, tetapi juga konsistensi memberi kontribusi. Banyak komunitas akhirnya berjalan dengan “inti kecil” pengurus yang aktif, sementara anggota lain hanya mengamati dari kejauhan. Hal ini menciptakan kesenjangan partisipasi yang bisa memengaruhi keberlangsungan.

Fenomena Silent Reader di WhatsApp Group

Di era digital, WhatsApp Group menjadi wadah komunikasi utama komunitas. Namun, tidak semua anggota merasa nyaman untuk aktif. Ada yang hanya membaca, tanpa pernah menyumbangkan ide atau sekadar memberi tanda respon.

Dita mengakui bahwa keberadaan silent reader adalah realita yang sulit dihindari. “Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk bicara. Tapi sebagai pengurus, penting menciptakan suasana aman agar orang merasa dihargai ketika berpendapat,” tambahnya. Strategi seperti mengadakan ice breaking, polling interaktif, atau sharing session ringan bisa membantu mengurangi dominasi silent reader.

Baca Juga: Tenun Bali Karya Tangan Pengrajin Desa Dengan Motif Sakral Dan Filosofi Kehidupan

Koordinasi yang Semakin Rumit dengan Banyaknya Pengurus

Tantangan lain muncul ketika komunitas semakin besar dan jumlah pengurus inti bertambah. Alih-alih mempercepat kerja, banyaknya pengurus justru bisa memperlambat keputusan.

Hal ini ditegaskan oleh Dista, pendiri komunitas Perempuan Berdaya Magelang. “Semakin banyak co-founder atau pengurus inti, maka koordinasi makin rumit. Visi bisa berbeda-beda, arahan menjadi sulit disepakati, dan ujungnya memperlambat pergerakan,” ucapnya.

Kesulitan ini sering muncul karena masing-masing pengurus membawa perspektif dan prioritas berbeda. Tanpa sistem koordinasi yang jelas, komunitas bisa terjebak dalam konflik internal.

Menemukan Keseimbangan

Meski penuh tantangan, mendirikan komunitas tetap menawarkan pengalaman berharga. Dari membangun jejaring hingga belajar kepemimpinan, setiap dinamika menjadi pelajaran. Menurut Dita, kuncinya adalah fleksibilitas dan transparansi. “Tidak ada formula baku dalam membangun komunitas. Tapi yang penting, semua anggota merasa memiliki dan dihargai,” katanya.

Dista menambahkan, pentingnya menyusun struktur kepengurusan yang jelas sejak awal. Dengan begitu, perbedaan visi bisa dikelola lebih baik, dan setiap orang tahu perannya.

Keduanya mengemukakan pandangan ini saat bertemu dalam ajang Top 15 Indosat Ooredo SheHacks Bootcamp PaPeDa 2025 yang digelar di Jakarta pada 15 September lalu.

Halaman:

Tags

Terkini