Tersembunyi di balik tebing batu, air terjun ini menyuguhkan sinar matahari yang menembus celah gua, menciptakan efek visual seolah datang dari dunia lain. Saat Galungan, tempat ini ramai oleh anak muda lokal yang ingin merenung jauh dari keramaian.
6. Sangeh, Hutan Penuh Monyet dan Mitos
Terletak di Badung, Hutan Monyet Sangeh masih menjadi favorit keluarga yang membawa anak-anak kecil.
Selain pepohonan pala yang rimbun dan hawa sejuk, kehadiran monyet-monyet jinak selalu jadi daya tarik tersendiri. Legenda tentang pohon-pohon yang ‘berjalan’ ke Sangeh juga menambah nuansa mistis yang sejalan dengan semangat Galungan.
7. Desa Penglipuran, Simbol Kesucian dan Ketertiban
Di momen Galungan, Desa Penglipuran tampil lebih memesona. Jalan-jalan bersih, rumah-rumah tradisional dihias janur, dan aroma dupa memenuhi udara.
Meski sering dikunjungi wisatawan, desa ini tetap menjadi kebanggaan warga Bali karena memancarkan nilai-nilai Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Perayaan Galungan lebih dari sekadar upacara keagamaan. Bagi masyarakat Bali, ini adalah waktu untuk pulang ke akar, menyatu dengan alam, dan merayakan keberadaan dengan cara paling indah: berjalan bersama keluarga melewati pura, pegunungan, dan pantai-pantai suci.
Di antara gemerlap pariwisata, inilah sisi Bali yang tetap abadi—penuh cinta, spiritualitas, dan keindahan yang merasuk ke jiwa.
Artikel Terkait
13 Pantai Terbaik di Bali: Surga 'Eat, Pray, Love' yang Nggak Pernah Kehabisan Pesona
Kuliner Dunia: Resep Kerajaan dari Bali
7 Liburan Hijau Terbaik di Bali yang Bikin Hati Adem
24 Jam Pertama di Ubud, Bali: Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Tiba Dari Penerbangan Internasional
Makna dan Pesona Galungan & Kuningan: Perayaan 210 Hari yang Menyulap Bali Jadi Negeri Para Leluhur
Makna dan Keindahan Ritual Galungan dan Kuningan di Bali: Dari Penyekeban hingga Kuningan