• Sabtu, 18 April 2026

Penjor Miring Di Desa Bali Bagian Timur Diyakini Sebagai Pertanda Alam Yang Muncul Menjelang Konflik Tersembunyi

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Rabu, 30 April 2025 | 11:14 WIB
Penjor yang condong dianggap bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan pertanda ketidakseimbangan energi dan konflik tersembunyi dalam desa. (bali.com)
Penjor yang condong dianggap bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan pertanda ketidakseimbangan energi dan konflik tersembunyi dalam desa. (bali.com)

 

Bali In Your Hands - Di beberapa desa bagian timur Bali, warga kerap merasakan kegelisahan setiap kali penjor yang dipasang lurus saat Galungan tiba-tiba terlihat miring tanpa sebab jelas.

Perubahan arah penjor yang seharusnya tegak lurus ke atas namun perlahan condong ke samping ini bukan sekadar kelalaian teknis.

Di mata tetua adat, penjor miring menandakan ketidakseimbangan alam yang sering kali berkaitan dengan tanda energi negatif atau disharmoni yang sedang atau akan terjadi.

Baca Juga: Wayang Lemah Tradisi Mistis Bali Yang Menghadirkan Doa dan Harapan di Balik Panggung Tanpa Penonton

Fenomena penjor miring tidak muncul setiap tahun. Biasanya hanya terjadi saat desa tengah memasuki masa transisi spiritual atau saat ada konflik tersembunyi antar kelompok yang belum terungkap secara terbuka.

Beberapa warga percaya bahwa roh leluhur memberi petunjuk melalui penjor yang condong sebagai bentuk peringatan.

Ini menjadi alasan mengapa di desa seperti Bungaya dan Bebandem, penjor yang miring justru tidak langsung ditegakkan kembali, melainkan dibiarkan hingga ritual pembersihan dilakukan.

Baca Juga: Sensasi Nasi Tepeng Di Pasar Senggol Klungkung Sajian Rempah Tradisi Yang Tak Terlupakan

Para pemangku adat kemudian menggelar upacara kecil yang disebut mecaru atau ngaturang pekelem untuk menetralkan energi yang diyakini sedang terganggu.

Mereka tidak hanya membaca arah angin atau posisi penjor, tapi juga memperhatikan mimpi kolektif warga dan kehadiran satwa liar tertentu yang dipercaya sebagai pertanda pengiring.

Tradisi ini tidak pernah dicatat secara formal, namun diwariskan secara lisan dan terus hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari sistem kearifan lokal yang mempercayai bahasa alam lebih dahulu dari ramalan manusia.

Baca Juga: Megibung: Tradisi Makan Bersama Khas Bali yang Kembali Populer di Era Modern

Fenomena penjor miring mengajarkan bahwa dalam budaya Bali, simbol-simbol kecil bisa menyimpan makna besar yang tak terlihat oleh mata. Di balik bambu yang bergoyang itu, tersimpan bahasa rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup selaras dengan alam.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Akurat, budayabali.com, bali.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X