Bali In Your Hands - Minggu pagi di Bali tak pernah biasa selama bulan perayaan seni. Pesta Kesenian Bali XLVII 2025 kembali menyuguhkan rangkaian acara yang memadukan kepekaan budaya dan kreativitas kolektif. Jadwal hari Minggu, 6 Juli 2025, dipenuhi pementasan lintas ekspresi, mulai dari penilaian lomba jurnalistik hingga parade musik megah di malam hari. Bagi penggemar seni tradisional dan pertunjukan internasional, hari ini menjadi titik temu antara eksplorasi budaya dan panggung pengalaman.
Pukul 10.00 Wita, Ruang Cinema Bawah Gedung Ksirarnawa menjadi ruang penting bagi para jurnalis dalam lomba karya tulis berita kisah. Wimbakara ini tidak hanya menilai kemampuan menulis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang seni dan makna setiap pementasan. Ini bukan sekadar lomba, tapi refleksi intelektual atas ekspresi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga: Panggung Gender Wayang Anak di Kalangan Angsoka Bukti Warisan Seni Terus Menyala
Selanjutnya pukul 11.00 Wita, Kalangan Ratna Kanda menghadirkan nuansa global lewat Bali World Culture Celebration (BWCC). Folklore dan live music dari The Zurna, grup asal Aljazair, memberi warna berbeda dalam dinamika Pesta Kesenian Bali. Penampilan mereka menyisipkan atmosfer Timur Tengah dalam panggung Bali, menjadikan dialog budaya terasa nyata.
Pukul 14.00 Wita, Kalangan Angsoka dimeriahkan Sanggar Seni Pranawa Swaram dari Desa Dalung. Pergelaran ini menonjolkan kekuatan komunitas lokal dalam merawat kesenian tradisional. Masuk sore hari pukul 17.00 Wita, Gedung Ksirarnawa kembali menjadi pusat perhatian dengan Tari Kebyar Gaya Peliatan dari Gianyar yang menampilkan kecanggihan musikal dan gerak yang khas dari Ubud.
Baca Juga: Karya Gebyar Generasi Muda Buleleng Barat Tampilkan Wajah Harmoni Dalam Seni Bali
Malam hari pukul 20.00 Wita, dua agenda berlangsung bersamaan. Kalangan Ayodya menghadirkan rekonstruksi Gamelan Tua oleh Sanggar Laras Manis dari Desa Darmasaba, sebuah upaya langka untuk merevitalisasi khazanah bunyi kuno. Di sisi lain, Panggung Terbuka Ardha Candra menjadi saksi Utsawa Gong Kebyar Wanita, menampilkan dua duta dari Tabanan dan Buleleng. Pementasan ini menunjukkan kekuatan perempuan dalam medan seni yang kerap didominasi laki-laki.
Pesta Kesenian Bali tidak pernah stagnan. Ia tumbuh, menjelajah, dan menyentuh ruang-ruang baru dalam tradisi dan inovasi. Hari Minggu ini menjadi bukti bahwa seni tetap hidup, tidak hanya dipelihara, tetapi diperjuangkan dengan semangat lintas generasi.***