• Sabtu, 18 April 2026

Delusi Saham: Cara Kerja, Risiko, dan Strategi Menghadapinya bagi Investor Agar Lancar

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Senin, 30 Juni 2025 | 20:30 WIB
Delusi saham terjadi bila ada pengeluaran saham baru (pexels/joshuamayo)
Delusi saham terjadi bila ada pengeluaran saham baru (pexels/joshuamayo)

Baliinyourhands.com - Dalam dunia investasi, istilah “delusi saham” mungkin belum terlalu populer di kalangan investor pemula. Namun, fenomena ini bisa berdampak signifikan terhadap nilai kepemilikan investor, bahkan berisiko menggerus persentase saham yang dimiliki tanpa disadari.

Dalam konteks pasar modal, delusi saham atau stock dilution adalah proses berkurangnya porsi kepemilikan saham eksisting akibat penerbitan saham baru oleh emiten.

Fenomena ini tidak hanya soal matematika persentase, melainkan juga soal strategi bisnis, psikologi investor, hingga transparansi perusahaan.

Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Kuliner Lokal Wajib Coba di Renon, Denpasar: Surga Rasa di Tengah Kota

Apa Itu Delusi Saham?

Delusi saham terjadi ketika sebuah perusahaan menerbitkan saham baru, baik melalui rights issue, private placement, konversi obligasi, ESOP (Employee Stock Ownership Program), maupun akuisisi. Hal ini menyebabkan jumlah saham beredar meningkat dan secara otomatis mengurangi persentase kepemilikan pemegang saham lama.

Contohnya, jika Anda memiliki 1.000 lembar saham dari total 10.000 saham beredar (10%), lalu perusahaan menerbitkan 5.000 saham baru, maka meski Anda masih memegang 1.000 lembar, porsi kepemilikan Anda akan turun menjadi 6,67%.

Delusi menjadi masalah jika investor tidak mendapat kompensasi yang sebanding, misalnya berupa peningkatan nilai fundamental perusahaan dari hasil aksi korporasi tersebut.

Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Klinik Estetika Canggih di Bali: Hairan, Tekankan Wujudkan Surga Medis di Nusantara

Apa Tujuan Perusahaan Melakukan Delusi?

Tidak semua aksi korporasi yang menyebabkan delusi bersifat negatif. Dalam banyak kasus, perusahaan melakukan penerbitan saham baru untuk:

Menggalang dana ekspansi bisnis

Membayar utang atau memperkuat neraca keuangan

Mengakuisisi perusahaan lain

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X