• Sabtu, 18 April 2026

Delusi Saham: Cara Kerja, Risiko, dan Strategi Menghadapinya bagi Investor Agar Lancar

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Senin, 30 Juni 2025 | 20:30 WIB
Delusi saham terjadi bila ada pengeluaran saham baru (pexels/joshuamayo)
Delusi saham terjadi bila ada pengeluaran saham baru (pexels/joshuamayo)

Memberikan insentif karyawan melalui program kepemilikan saham

Namun, jika dilakukan tanpa strategi yang jelas atau hanya untuk menutup lubang kerugian, aksi ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi investor.

Bagaimana Investor Bisa Menyikapinya?

Menurut Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri yang kerap memberikan analisis pasar modal, investor harus lebih cermat membaca prospektus dan rencana penggunaan dana hasil penerbitan saham baru.

“Kalau tujuannya untuk ekspansi yang bisa meningkatkan laba, efek delusi bisa tertutupi oleh kenaikan valuasi. Tapi kalau hanya untuk menambal defisit operasional, investor perlu waspada,” ujarnya dalam salah satu wawancara dengan media bisnis nasional.

Beberapa strategi menyikapi delusi saham:

1. Ikut Rights Issue
Jika Anda mendapatkan hak membeli saham baru (rights), manfaatkan jika harganya menarik dan prospek perusahaan baik. Dengan begitu, Anda bisa mempertahankan persentase kepemilikan.


2. Analisis Dampak Terhadap Laba per Saham (EPS)
Delusi biasanya menurunkan EPS, karena laba dibagi ke jumlah saham yang lebih besar. Turunnya EPS bisa membuat valuasi terlihat lebih mahal.


3. Cek Track Record dan Transparansi Manajemen
Perusahaan yang rutin melakukan aksi korporasi tanpa kejelasan arah strategi patut dicurigai. Lihat apakah mereka punya histori manajemen yang profesional dan pro-pemegang saham.


4. Pahami Jenis Delusi: Langsung atau Tidak Langsung
Beberapa delusi tidak terjadi secara langsung, misalnya melalui opsi konversi waran atau obligasi konversi. Meski belum terjadi, potensi efeknya tetap harus dihitung.

Risiko Psikologis yang Sering Terjadi

Salah satu jebakan bagi investor ritel adalah efek psikologis. Banyak investor panik saat mendengar “dilusi” dan buru-buru menjual saham, padahal aksi korporasi bisa berdampak positif dalam jangka panjang.

“Delusi bukan selalu hal negatif. Penting untuk tahu konteks dan tujuan di baliknya,” ujar Reza Priyambada, analis pasar modal independen, dalam sebuah webinar edukasi pasar modal. “Investor cerdas selalu melihat gambaran besar, bukan hanya angka hari ini.”

Delusi saham adalah bagian dari dinamika pasar modal yang tidak bisa dihindari. Ia bisa menjadi ancaman, tetapi juga peluang — tergantung bagaimana investor menyikapinya. Kuncinya ada pada literasi keuangan, pemahaman terhadap prospek perusahaan, dan ketenangan dalam mengambil keputusan.

Jangan buru-buru menarik kesimpulan dari istilah yang terdengar menyeramkan. Seperti dalam investasi pada umumnya: yang tahu lebih banyak, biasanya menang lebih banyak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X