• Sabtu, 18 April 2026

Fenomena Kuliner Pinkan Mambo: Dari Donat hingga Cap Cay Mahal, Dikritik tapi Tetap Diburu

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Minggu, 31 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi donat (Canva/PhotoApp)
Ilustrasi donat (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Di tengah ramainya tren kuliner selebritas, nama Pinkan Mambo kembali mencuri perhatian publik. Mantan personel Ratu ini bukan hanya jadi sorotan karena suara khasnya, tetapi juga karena dagangan kulinernya yang kontroversial.

Mulai dari donat hingga cap cay, menu jualan Pinkan Mambo ramai diperbincangkan lantaran harga yang dinilai “fantastis” dan kualitas yang kerap dikritik para food vlogger.

Meski demikian, antrian panjang pembeli yang rela melakukan pre-order (PO) membuktikan bahwa bisnis kuliner Pinkan bukan sekadar sensasi semata. Bahkan, tak sedikit konsumen yang memilih membayar jalur cepat atau fast track dengan biaya hingga Rp 2 juta hanya untuk tak perlu menunggu lama.

Baca Juga: 5 Tantangan Utama yang Perlu Diwaspadai saat Merintis Usaha Baru

Harga Selangit, Kualitas Dipertanyakan

Pinkan Mambo dikenal menjual makanan dengan harga jauh di atas pasaran. Donat buatannya sempat dijual dengan banderol puluhan ribu rupiah per biji, sementara menu cap cay rumahan bisa menyentuh harga ratusan ribu rupiah.

Food vlogger Indonesia tidak tinggal diam. Beberapa kanal YouTube dan akun TikTok kuliner mengulas secara blak-blakan bahwa rasa hidangan tersebut dianggap tidak sepadan dengan harga. Kritik yang paling sering muncul adalah tekstur yang kurang konsisten, bumbu yang sederhana, hingga tampilan plating yang dinilai biasa saja.

Namun, di balik hujan kritik itu, justru muncul fenomena lain: semakin ramai orang penasaran untuk mencoba.

Baca Juga: Panduan Gaya Hidup: 17 Hari Suci Umat Hindu Bali di September 2025

Magnet Selebritas dan Fenomena “FOMO”

Fenomena kuliner Pinkan Mambo tidak bisa dilepaskan dari status selebritasnya. Nama besar dan karakternya yang kerap kontroversial memberi daya tarik tersendiri. Bagi sebagian orang, membeli makanan Pinkan bukan sekadar soal rasa, melainkan juga pengalaman sosial—seakan ikut bagian dari tren yang sedang viral.

Fenomena ini sering disebut sebagai “FOMO” (Fear of Missing Out). Dalam budaya digital, orang tidak ingin ketinggalan percakapan yang sedang hangat, sehingga rela membeli hanya demi bisa membagikan cerita atau konten di media sosial.

Jalur Fast Track Rp 2 Juta: Antara Ironi dan Strategi Bisnis

Hal yang paling mengejutkan dari bisnis kuliner Pinkan adalah adanya layanan fast track. Dengan membayar Rp 2 juta, pembeli bisa melewati antrian panjang dan langsung mendapatkan pesanannya. Praktik ini memicu perdebatan di jagat maya.

Sebagian menyebutnya strategi cerdas, karena hanya konsumen yang benar-benar “niat” yang mau mengeluarkan uang ekstra. Namun, tak sedikit pula yang menyebutnya bentuk eksploitasi dari fenomena viralitas.

Bisnis Kuliner yang Berjalan di Luar Logika Pasar

Jika biasanya kualitas rasa dan harga menentukan keberhasilan usaha kuliner, Pinkan Mambo menunjukkan jalur berbeda. Popularitas, kontroversi, dan rasa penasaran publik justru jadi bahan bakar utama. Meski dikritik, dagangannya tetap laris manis.

Bagi pengamat kuliner, fenomena ini bisa jadi contoh bahwa tren digital mampu menggeser logika konvensional bisnis makanan. Selama ada cerita yang bisa dijual, pembeli akan tetap datang—meski kualitas rasa bukan nomor satu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X