Tak berhenti di sana, Jabarano juga telah menembus pasar Korea Selatan. Gerai mereka di distrik Mapo, Seoul, dirancang sebagai perpaduan antara kedai kopi dan ruang seni.
Di sana, pengunjung bisa mencicipi varian kopi sambil menikmati pameran karya seniman Indonesia-Korea, atau mengikuti cupping class yang membahas filosofi di balik setiap jenis biji.
Meskipun telah mendunia, Jabarano tetap menjaga komitmen pada akar lokal. Mereka menjalankan program “Back to the Farmer,” di mana sebagian dari keuntungan global disalurkan untuk pelatihan petani dan pengembangan infrastruktur di desa-desa penghasil kopi.
Di tengah maraknya bisnis kopi yang bergerak cepat dan kerap mengejar tren, Jabarano hadir sebagai pengecualian. Mereka tidak menjual kopi sebagai produk semata, tapi sebagai pengalaman yang punya jiwa.
“Minum kopi adalah tindakan reflektif. Dan kami ingin orang-orang, dari Ubud sampai Seoul, merasakan bahwa dalam secangkir kopi ada banyak kisah — tentang tanah, tentang manusia, dan tentang keberanian bermimpi,” tutup Adrian.
Dengan visi yang kuat dan rasa yang jujur, Jabarano bukan hanya menaklukkan hati para pecinta kopi, tapi juga membangun jembatan rasa dari Nusantara ke dunia.
Artikel Terkait
Selamat Tinggal Plastik Sekali Pakai: Bali Perketat Aturan Demi Lautan yang Lebih Bersih
Bakpao Yongsan: Dari Sepi dalam Riuh ke Viral 10 Juta Viewers di TikTok
Wedja Ubud: Kala Mistis dan Cita Rasa dalam Satu Piring Nan Mempesona
Menikmati Kuliner Bali Dengan Gemericik Sungai di Denpasar Bali
Gajah Putih Ubud: Perpaduan Fine Dining dan Teater yang Memikat di Bali