umkm-bali

Mengenal Social Enterprise di Indonesia: Dari Du Anyam hingga Waste4Change

Kamis, 28 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi anyaman sebagai salah satu bidang dari social entreprise (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Istilah social enterprise atau wirausaha sosial semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia, terutama di era ketika kesadaran terhadap isu sosial dan lingkungan semakin tinggi. Social enterprise hadir sebagai solusi kreatif untuk menjawab tantangan sosial, sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Beberapa di antaranya bahkan berhasil dikenal luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di kancah internasional.

Du’Anyam: Anyaman yang Mengubah Hidup

Salah satu contoh social enterprise paling sukses di Indonesia adalah Du’Anyam. Perusahaan ini berfokus pada pemberdayaan perempuan di pedesaan, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Melalui tradisi anyaman daun lontar, Du’Anyam memberikan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan para ibu di desa.

Produk anyaman yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke berbagai kota besar bahkan mancanegara, termasuk sebagai suvenir resmi dalam ajang Asian Games 2018. Model bisnis ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat posisi perempuan dalam ekonomi keluarga.

Waste4Change: Solusi untuk Sampah Kota

Permasalahan sampah selalu menjadi isu besar di kota-kota Indonesia. Melihat hal ini, Waste4Change hadir dengan pendekatan berbeda. Social enterprise ini fokus pada pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, mulai dari pemilahan, daur ulang, hingga pengomposan.

Baca Juga: Bebek Yemelia: Legenda Bebek Goreng Favorit Warga Bali Sejak Tahun 90-an

Didirikan oleh Mohamad Bijaksana Junerosano pada 2014, Waste4Change bekerja sama dengan individu, perusahaan, hingga komunitas untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA. Hasilnya, ribuan ton sampah berhasil dialihkan menjadi material daur ulang atau kompos. Model bisnis ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan seiring dengan keuntungan usaha.

Kopernik: Inovasi untuk Daerah Terpencil

Kopernik adalah social enterprise lain yang memiliki misi besar: menjembatani akses teknologi sederhana dan tepat guna ke daerah terpencil. Organisasi ini mendistribusikan teknologi ramah lingkungan, seperti kompor hemat energi dan filter air bersih, ke masyarakat yang kesulitan akses infrastruktur dasar.

Dengan sistem distribusi berbasis komunitas, Kopernik memastikan teknologi ini tidak hanya sampai ke tangan yang membutuhkan, tetapi juga dikelola secara berkelanjutan. Hingga kini, Kopernik telah membantu ribuan keluarga di pelosok Indonesia meningkatkan kualitas hidup mereka.

Baca Juga: Laklak Men Mangku: Legenda Kue Tradisional Bali dengan Rasa Pandan, Bunga Naga, dan Nangka

SukkhaCitta: Fashion dengan Jejak Sosial

Di industri mode, SukkhaCitta tampil sebagai social enterprise yang mengangkat kembali kain tradisional Indonesia. Mereka bekerja langsung dengan para pengrajin desa untuk menghasilkan kain yang ditenun dan diwarnai dengan teknik alami. Selain menjaga tradisi, SukkhaCitta juga memastikan para pengrajin mendapatkan upah layak.

Dengan konsep “fashion with impact”, setiap pembelian produk SukkhaCitta berarti konsumen ikut berkontribusi pada kehidupan pengrajin di baliknya. Pendekatan ini berhasil menarik perhatian pasar global, menjadikan brand ini sebagai salah satu contoh sukses fashion berkelanjutan dari Indonesia.

Mengapa Social Enterprise Penting?

Kehadiran social enterprise di Indonesia bukan hanya soal tren bisnis, tetapi juga bagian dari solusi nyata bagi masalah sosial dan lingkungan. Dari pemberdayaan perempuan, pengelolaan sampah, akses teknologi, hingga pelestarian budaya, social enterprise menunjukkan bahwa keuntungan dan kepedulian bisa berjalan beriringan.

Tren ini juga sejalan dengan perubahan perilaku konsumen, khususnya generasi muda yang semakin selektif dalam memilih produk dan jasa. Mereka cenderung mendukung brand yang memiliki misi sosial jelas dan transparan.

Social enterprise seperti Du’Anyam, Waste4Change, Kopernik, dan SukkhaCitta hanyalah segelintir contoh dari gerakan yang lebih besar di Indonesia. Ke depan, model bisnis semacam ini diprediksi akan semakin berkembang, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu sosial dan lingkungan.

Halaman:

Tags

Terkini