• Sabtu, 18 April 2026

Banjir di Bali pada Desember 2024 dan Januari 2025: Dampak Pembangunan Pariwisata yang Masif Tanpa Memperhatikan Keseimbangan Alam

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Selasa, 28 Januari 2025 | 15:01 WIB
Keseimbangan ekosistem Bali harus tetap dijaga di tengah masifnya pembangunan pariwisata (Documentation/Wino_art)
Keseimbangan ekosistem Bali harus tetap dijaga di tengah masifnya pembangunan pariwisata (Documentation/Wino_art)

Baliinyourhands.com - Pada Desember 2024 dan Januari 2025, Bali mengalami beberapa kejadian banjir yang signifikan.Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Badung selama dua hari berturut-turut pada 21 dan 22 Desember 2024 mengakibatkan genangan di beberapa lokasi.

Tingginya curah hujan menyebabkan Tukad Mati tidak mampu menampung air, sehingga drainase di Jalan Sri Rama dan Jalan Kunti II meluap, mengakibatkan permukiman warga, aktivitas wisata, dan kendaraan terdampak banjir tersebut

Selain itu, hingga 12 Januari 2025, tercatat 10 kejadian bencana di Provinsi Bali, yang terdiri dari 8 kejadian cuaca ekstrem, 1 kejadian tanah longsor, dan 1 kejadian banjir. Meskipun tidak ada korban jiwa atau luka, estimasi nilai kerusakan mencapai 65 juta rupiah. 

Fenomena banjir ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia, terutama pembangunan pariwisata yang masif tanpa memperhatikan keseimbangan alam.

Baca Juga: Banjir di Bali dan Kaitannya Dengan Dinobatkannya Tahun 2024 Sebagai Tahun Terpanas Oleh Al Gore

Alih fungsi lahan hutan dan sawah di hulu dan daerah aliran sungai (DAS) menjadi pemukiman, vila, dan hotel telah mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan, meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat yang juga Founder dari LSM The Climate Reality Project pada The Global Landscape for Climate Action 2025 mengatakan,  "Kita perlu mendorong tidak hanya solusi iklim, tetapi juga mendukung transisi yang adil menuju energi bersih yang memperhatikan masyarakat terdampak langsung dan mengatasi ketidakadilan lingkungan."

Ketidakadilan lingkungan seperti pembangunan infrastruktur pariwisata yang tidak terkontrol juga berkontribusi pada masalah ini.Penambahan fasilitas wisata tanpa perencanaan yang matang seringkali mengabaikan aspek lingkungan, seperti sistem drainase yang memadai dan konservasi area resapan air.

Baca Juga: Cara Membuat SMART Goal untuk Membantu Menjalankan dan Mengembangkan Bisnis

Akibatnya, saat hujan deras terjadi, air tidak dapat mengalir dengan baik, menyebabkan banjir di area wisata dan permukiman sekitar seperti yang terjadi di Canggu, di mana banyak lahan sawah sudah terkonversi menjadi sejumlah kafe, penginapan dan beach club.

Masalah ini telah menjadi sorotan negatif bagi pariwisata Bali.Selain banjir, isu lain seperti kemacetan lalu lintas dan penumpukan sampah juga menjadi perhatian.

Para asosiasi pariwisata di Pulau Dewata menyampaikan berbagai temuan di lapangan, seperti masalah kemacetan, banjir, dan sampah.

Baca Juga: Inovasi Pesona Alami Kecantikan Lokal Bali yang Memikat Dunia

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.Pemerintah dan pelaku industri pariwisata harus bekerja sama dalam merencanakan dan mengimplementasikan pembangunan yang mempertimbangkan kapasitas lingkungan Bali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X