• Sabtu, 18 April 2026

Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober: Momentum untuk Peduli dan Saling Mendukung Antar Sesama

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 19:34 WIB
Hari Kesehatan Mental Sedunia (Canva/PhotoApp)
Hari Kesehatan Mental Sedunia (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day. Peringatan ini menjadi ajakan global untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental dan melawan stigma yang masih sering melekat pada isu psikologis.

Tema tahunan yang diusung oleh World Health Organization (WHO) berbeda-beda setiap tahunnya, namun semangatnya selalu sama: menegaskan bahwa kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan.

Asal-usul Hari Kesehatan Mental Sedunia

Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1992, diprakarsai oleh World Federation for Mental Health (WFMH), sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang berdiri sejak 1948 dan memiliki anggota dari lebih dari 150 negara.

Baca Juga: Krisna Wisata Kuliner Tuban: Gerbang Kuliner dan Oleh-oleh Dekat Bandara Bali

Awalnya, peringatan ini tidak memiliki tema khusus; hanya berupa kampanye kesadaran yang disiarkan melalui media dan kegiatan komunitas. Namun sejak tahun 1994, WFMH mulai mengangkat tema spesifik setiap tahunnya, seperti mental health and human rights, youth and mental health in a changing world, hingga mental health in an unequal world.

Tujuan utama dari penetapan hari ini adalah untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental, mendorong pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendukung yang inklusif bagi siapa pun yang mengalami gangguan mental atau tekanan emosional.

Cara Dunia Memperingatinya

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang berfokus pada edukasi, empati, dan aksi nyata. Di banyak negara, termasuk Indonesia, sejumlah lembaga dan komunitas menggelar talkshow, webinar, kampanye media sosial, hingga sesi konseling gratis.

Baca Juga: Panduan Belanja Ikan Segar dan Murah di Pasar Ikan Kedonganan Bali

Sekolah dan universitas juga sering mengadakan kegiatan refleksi bersama atau kelas mindfulness untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental.

Di dunia kerja, beberapa perusahaan mulai menyelenggarakan program mental health day off—hari libur tambahan bagi karyawan untuk beristirahat dari tekanan pekerjaan dan mengisi ulang energi emosional mereka. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran bahwa produktivitas tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan psikologis.

Momentum Refleksi dan Solidaritas

Peringatan ini bukan hanya tentang kampanye satu hari, tetapi momentum untuk merenungkan hubungan kita dengan diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks pasca-pandemi, isu kesehatan mental menjadi semakin relevan: banyak orang mengalami stres, kecemasan, bahkan trauma karena kehilangan, isolasi, dan ketidakpastian ekonomi.

Menurut WHO, satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental, dan angka ini meningkat tajam di kalangan anak muda. Karena itu, dukungan sosial menjadi kunci utama.

Saling mendengarkan tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman untuk berbicara, serta memastikan akses terhadap layanan psikologis yang terjangkau adalah langkah konkret yang dapat dilakukan siapa pun.

Hari Kesehatan Mental Sedunia mengingatkan kita bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Ia bukan sekadar isu individu, melainkan urusan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat luas. Dengan memperingatinya setiap tahun, kita memperkuat pesan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan—melainkan keberanian untuk bertumbuh dan hidup lebih seimbang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X