Baliinyourhands - Di tengah maraknya isu pangan berkelanjutan, sosok Nadya Pratiwi muncul sebagai salah satu inisiator gerakan Beras Baik—sebuah inisiatif yang menghubungkan kesadaran akan sumber makanan dengan kesejahteraan petani lokal.
Dalam siniar Reflections with Amanda bersama Amanda Katili, seorang pegiat harmoni bumi, Nadya menceritakan perjalanan yang berawal dari keresahan sederhana: keinginannya agar anak-anak dan keluarganya mengetahui dari mana nasi yang mereka makan berasal.
Gerakan Beras Baik lahir dari keyakinan bahwa makanan bukan sekadar produk konsumsi, tetapi juga cerminan dari relasi manusia dengan alam.
Nadya memutuskan untuk membeli beras langsung dari petani dengan harga yang layak, memastikan mereka mendapatkan imbalan setimpal atas kerja keras mereka. Lebih jauh, ia memilih hanya bekerja sama dengan para petani yang menanam padi tanpa pupuk kimia, agar hasil panen tidak merusak tanah dan tetap aman untuk dikonsumsi keluarga.
“Bagi saya, beras yang baik bukan hanya soal rasa, tapi juga perjalanan yang jujur dari benih sampai nasi di piring,” ujar Nadya dalam siniar tersebut. Ia percaya, kesadaran ini harus dimulai dari rumah, dari cara keluarga memandang makanan yang mereka konsumsi setiap hari.
Selain menggerakkan inisiatif sosial, Nadya juga mengembangkan Beras Baik menjadi bagian dari praktik bisnis yang berkelanjutan. Ia kini memiliki enam warung Nasi Peda Pelangi yang tersebar di beberapa wilayah Bali.
Baca Juga: Hangout ala pantai untuk komunitas kreatif di Sanur Bali
Warung-warung ini bukan sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi wadah edukasi kecil tentang pangan lokal dan pentingnya konsumsi beras sehat tanpa bahan kimia. Menu andalannya—nasi peda lengkap dengan lauk dan sayur rumahan—menjadi simbol keseimbangan antara cita rasa nusantara dan nilai keberlanjutan.
Gerakan yang dibangun Nadya bukan tanpa tantangan. Di awal perjalanan, ia harus meyakinkan petani bahwa menanam tanpa pupuk kimia bukan berarti kehilangan hasil panen, melainkan mengembalikan kesuburan alami tanah.
Perlahan, para petani mulai melihat hasilnya: tanah menjadi lebih gembur, kualitas gabah meningkat, dan konsumen pun semakin menghargai keaslian cita rasa beras yang alami.
Amanda Katili, dalam siniar tersebut, menyoroti bahwa gerakan seperti Beras Baik merupakan wujud nyata dari harmoni antara manusia dan bumi. “Apa yang dilakukan Nadya adalah contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari niat sederhana untuk memahami sumber pangan kita,” ujarnya.
Kini, Beras Baik bukan hanya sekadar gerakan sosial, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak keluarga dan pelaku usaha di Bali untuk lebih peduli terhadap proses produksi pangan. Nadya berharap, semakin banyak orang yang menyadari bahwa setiap butir nasi punya cerita—tentang tangan petani, tentang tanah yang subur, dan tentang pilihan sadar untuk makan dengan bijak.
Siniar Reflections with Amanda yang menampilkan kisah Nadya Pratiwi dapat ditonton di kanal YouTube Amanda Katili TV—sebuah ruang refleksi yang mempertemukan cerita manusia, alam, dan upaya kecil untuk menjaga keseimbangan keduanya.
Artikel Terkait
Blackpink: Konser 'Deadline' Jakarta Hari Pertama Tetap Panas dan Enerjik Walaupun Sempat Diguyur Hujan
Kata Coki Pardede usai Onadio Leonardo Terjerat Skandal Narkoba, Ngaku Enggan Pura-pura Ngerti Perasaan sang Artis
Ragam Sambal Khas Indonesia Tengah dan Timur yang Menggugah Selera
Pentingnya Legalitas Akomodasi: Himbauan Terbaru Kemenpar untuk Semua Penginapan Sebelum 31 Desember 2025