Baliinyourhands - Dalam beberapa tahun terakhir, pola diet ekstrem semakin banyak dikritisi karena cenderung menimbulkan tekanan emosional dan fisik pada pelakunya.
Masyarakat mulai menyadari bahwa menurunkan berat badan bukan hanya soal kalori dan angka di timbangan—melainkan tentang relasi sehat antara tubuh, pikiran, dan makanan. Konsep inilah yang menjadi inti dari conscious diet, atau diet berkesadaran, sebuah pendekatan makan yang tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga pikiran.
Gagasan conscious diet dibahas secara mendalam oleh dr. Yovi Yoanita dalam sesi bedah buku “Conscious Diet” yang digelar oleh A+ Communications dan komunitas Momakece dalam rangkaian acara bertajuk “Read, Don’t Road” di Jakarta.
Baca Juga: Outdoor Intelligence—Cara Sederhana Terkoneksi dengan Alam untuk Menjaga Lingkungan Hidup
Acara yang didukung oleh Bali In Your Hands dan dipandu oleh MC Panca Atis tersebut berlangsung hangat di Oakwood Suites La Maison Jakarta, dihadiri para pegiat kesehatan, ibu bekerja, hingga generasi muda yang ingin menjalankan diet tanpa tekanan fisik dan emosional.
Dalam pemaparannya, dr. Yovi menyampaikan bahwa diet tidak seharusnya menjadi hukuman atas tubuh kita. Banyak orang menjalani diet dengan rasa cemas, bersalah, dan takut makan, padahal stres justru menghasilkan hormon kortisol.
Ketika kortisol meningkat, tubuh bereaksi dengan mempertahankan cadangan lemak, sehingga proses penurunan berat badan malah terhambat. “Tubuh tidak akan berfungsi optimal dalam kondisi stres. Diet yang menekan diri justru mengaktifkan mekanisme pertahanan tubuh untuk menyimpan lemak,” jelas dr. Yovi.
Baca Juga: Lima Kuliner Langka Bali Dengan Rasa Autentik Yang Mengajak Wisatawan Menjelajah Desa Tua
Dengan conscious diet, setiap orang diajak untuk makan secara sadar—melihat makanan bukan sekadar kalori, tetapi sumber nutrisi dan keberkahan. Inti pola ini bukan melarang makanan favorit, melainkan memahami sinyal tubuh: kapan benar-benar lapar, kapan kenyang, dan apa yang dibutuhkan tubuh. Pendekatan ini memberi ruang untuk menikmati makanan tanpa rasa bersalah.
Acara bedah buku tersebut menegaskan bahwa pikiran dan kesehatan mental memainkan peran besar dalam keberhasilan diet. Saat kita membangun rasa cinta pada tubuh, kita lebih termotivasi memberi nutrisi terbaik pada diri sendiri.
Alih-alih diet ketat dan olahraga berlebihan, conscious diet mendorong kebiasaan pelan namun konsisten: tidur cukup, mengurangi makan sambil terburu-buru, tidak membandingkan tubuh dengan orang lain, dan menikmati aktivitas fisik yang disukai.
Para peserta acara menyadari bahwa kunci keberhasilan diet bukanlah membatasi makanan, namun membebaskan diri dari tekanan mental. Terlebih di era media sosial yang kerap menampilkan standar tubuh ideal, pendekatan ini memberikan sudut pandang sehat bahwa tubuh setiap orang unik dan memiliki ritme tersendiri.
Conscious diet bukan tren singkat, melainkan gaya hidup jangka panjang yang memungkinkan kita menurunkan berat badan sambil menjaga kesehatan mental. Pada akhirnya, perjalanan diet tidak harus penuh perjuangan—melainkan proses lembut untuk mengenal tubuh, menghormatinya, dan menjaganya dengan kesadaran penuh.
Acara di Jakarta tersebut menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesehatan sejati adalah harmoni antara jiwa dan raga. Ketika pikiran tenang, tubuh pun bekerja dengan optimal. Dan mungkin, inilah kunci menurunkan berat badan yang selama ini dicari banyak orang: bukan menyiksa tubuh, melainkan merawatnya dengan penuh kesadaran.
Artikel Terkait
Purana dan Fuguku Hadirkan Visi Bersatu Desain Indonesia di Nusantara Runway, Kuala Lumpur
Soal Dana Pensiun untuk Atlet, Menpora Akui Belum Bisa Terealisasi dalam Waktu Dekat
Suami Anita Dewi Minta Maaf usai Kisruh Hilangnya Tumbler di KRL, Janjikan Kasus Tak Berujung Pemecatan
Tren 'Tumbler Sehari-hari': Dari Kepedulian Lingkungan ke Fashion Statement
Outdoor Intelligence—Cara Sederhana Terkoneksi dengan Alam untuk Menjaga Lingkungan Hidup