• Sabtu, 18 April 2026

Memahami Sejarah, Tradisi, Budaya dan Kuliner Cap Go Meh Yang Penting Buat Etnis Tionghoa

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Kamis, 13 Februari 2025 | 14:00 WIB
Budaya dan tradisi Cap Go Meh dengan keunikannya (pexels/angelaroma)
Budaya dan tradisi Cap Go Meh dengan keunikannya (pexels/angelaroma)

Baliinyourhands.comCap Go Meh adalah salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa yang menandai hari ke-15 sekaligus hari terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Dalam bahasa Hokkien, "Cap Go Meh" berarti "malam ke-15", yang merujuk pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender lunar.

Dari festival lampion, pawai barongsai, hingga kuliner khas seperti lontong Cap Go Meh dan kue keranjang, setiap elemen perayaan ini memiliki simbolisme mendalam.

Cap Go Meh adalah puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek yang kaya akan tradisi dan makna spiritual.

Di Indonesia, perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik perhatian banyak orang.

Baca Juga: Memahami Makna Pawai Ogoh-Ogoh di Bali Menjelang Hari Raya Nyepi

Tahun ini, Cap Go Meh jatuh pada tanggal 12 Februari, dan perayaan ini diadakan dengan berbagai tradisi yang khas dan meriah di berbagai daerah, terutama di komunitas Tionghoa di Indonesia.

Sejarah Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh berasal dari Dinasti Han (206 SM – 220 M), ketika Kaisar Han Wendi menetapkan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek sebagai hari perayaan khusus. Pada masa itu, perayaan ini menjadi momen untuk berdoa kepada dewa-dewa dan leluhur serta menyaksikan festival lentera yang penuh warna. Di Tiongkok, Cap Go Meh juga dikenal sebagai Festival Yuanxiao atau Festival Lampion, yang melambangkan harapan dan keberuntungan di tahun yang baru.

Seiring waktu, perayaan ini menyebar ke berbagai negara dengan diaspora Tionghoa, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Cap Go Meh berkembang menjadi sebuah perayaan besar yang tidak hanya bersifat religius tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan yang lebih luas, diadopsi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Baca Juga: Hujan Badai Menghantam Bali Kembali, Tanda-Tanda Krisis Iklim Akan Segera Terjadi?

Tradisi dalam Perayaan Cap Go Meh

  1. Festival Lampion – Salah satu simbol utama dari Cap Go Meh adalah lampion merah yang menghiasi jalanan, rumah, dan klenteng. Lampion ini melambangkan keberuntungan, harapan, dan kebahagiaan.

  2. Pawai Tatung – Di beberapa daerah seperti Singkawang, Kalimantan Barat, perayaan Cap Go Meh dimeriahkan dengan Pawai Tatung, di mana para peserta dalam kondisi trans menunjukkan aksi-aksi supranatural yang menarik perhatian banyak orang.

  3. Sembahyang dan Doa – Masyarakat Tionghoa biasanya mengunjungi klenteng untuk berdoa dan memohon keberkahan bagi tahun yang baru.

  4. Pelepasan Lentera ke Langit – Beberapa daerah juga mengadakan pelepasan lentera ke langit sebagai simbol melepas harapan dan doa untuk masa depan.

  5. Pawai Barongsai dan Liong – Pertunjukan barongsai dan liong (naga) yang dinamis sering kali menjadi bagian dari kemeriahan Cap Go Meh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X