Hingga Kamis pagi, pencarian lanjutan terhadap kemungkinan korban hilang masih terus dilakukan. Tim penyelam dikerahkan untuk menyisir area tenggelamnya kapal yang diperkirakan berada di kedalaman sekitar 35 meter.
Posko crisis center didirikan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk untuk membantu keluarga korban yang mulai berdatangan. Isak tangis dan keputusasaan tampak menghiasi area posko. Beberapa keluarga masih menunggu kepastian nasib orang terkasih mereka.
Tragedi ini mempertegas bahwa keselamatan pelayaran malam hari di Selat Bali perlu menjadi perhatian serius.
Jalur ini bukan sekadar penghubung antar pulau, tapi juga urat nadi aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya. Ketika sistem pengamanan dan respons darurat tidak disiapkan dengan matang, taruhannya bisa sangat mahal—nyawa manusia.
Kini, setelah malam penuh duka itu berlalu, pertanyaan terbesar pun muncul: sudahkah kita benar-benar siap menghadapi darurat di laut? Jika belum, tragedi KMP Tunu Pratama Jaya harus menjadi titik balik, bukan sekadar berita duka sesaat.