national-news

Sejarah Demonstrasi Besar di Indonesia: Dari Malari 1974 sampai Reformasi 1998

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 11:38 WIB
Demonstrasi massa menjadi catatan sejarah Indonesia (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Kalau bicara soal sejarah Indonesia, demonstrasi atau aksi massa selalu punya tempat penting. Dari dulu sampai sekarang, unjuk rasa jadi cara rakyat menyuarakan isi hati, terutama saat mereka merasa pemerintah tidak berpihak pada kepentingan publik. Dua momen yang paling terkenal adalah Peristiwa Malari tahun 1974 dan Reformasi 1998.

Malari 1974: Saat Mahasiswa Melawan Modal Asing

Pada 15 Januari 1974, Jakarta mendadak panas. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka. Alasannya sederhana: mereka menilai pemerintah terlalu memberi ruang besar bagi modal asing, sementara rakyat kecil merasa tertinggal.

Awalnya damai, tapi lama-lama berubah jadi kerusuhan. Mobil dibakar, toko dirusak, dan kota lumpuh. Sejak itu, peristiwa ini dikenal sebagai Malari (Malapetaka Lima Belas Januari).

Baca Juga: Resep Urap Timun Khas Bali yang Segar, Cocok Dimakan dengan Lauk Apa Saja dan Sambal Embe

Setelah kejadian, pemerintah Orde Baru memperketat aturan. Banyak aktivis ditangkap dan media dibungkam. Malari jadi simbol bahwa kritik rakyat bisa begitu kuat hingga membuat penguasa ketar-ketir.

Reformasi 1998: Runtuhnya Soeharto

Dua puluh empat tahun setelah Malari, demonstrasi jauh lebih besar kembali terjadi. Kali ini dipicu krisis ekonomi 1997. Harga bahan pokok naik, banyak orang kehilangan pekerjaan, dan kepercayaan pada Presiden Soeharto menurun drastis.

Mahasiswa dari berbagai kampus memimpin gerakan ini. Mereka menuntut perubahan besar: pemerintahan yang lebih transparan, jujur, dan demokratis.

Baca Juga: Lanzhou Lamian di Jimbaran Bali: Mie Autentik Halal Langsung dari Resep Asli Cina

Puncaknya pada Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil masuk dan menduduki Gedung DPR/MPR. Jakarta kembali kacau. Kerusuhan terjadi di berbagai tempat, toko-toko dijarah, gedung terbakar, dan banyak korban jiwa berjatuhan.

Tekanan massa akhirnya membuat Soeharto mundur pada 21 Mei 1998 setelah berkuasa 32 tahun. Dari sinilah era Reformasi dimulai.

Demonstrasi, Dari Jalanan ke Media Sosial

Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa demonstrasi adalah bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia. Jalanan dulu jadi panggung utama rakyat untuk bersuara. Sekarang, di era digital, media sosial juga jadi “jalan baru” tempat orang menyampaikan protes dan aspirasi.

Sejarah membuktikan, suara rakyat punya kekuatan besar. Malari 1974 mengingatkan pentingnya keberpihakan pada rakyat, sementara Reformasi 1998 menunjukkan keberanian yang akhirnya membuka pintu kebebasan. Dari masa lalu kita belajar, bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk bersuara.

Tags

Terkini