• Sabtu, 18 April 2026

Ulasan Film Pangku: Potret Perjuangan Ibu Tunggal di Pesisir dan Tiga Pesan Makna Hidup di Dalamnya Besutan Reza Rahadian

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Sabtu, 15 November 2025 | 18:30 WIB
Film Pangku refleksi hidup ibu tunggal (Youtube/Cinema21)
Film Pangku refleksi hidup ibu tunggal (Youtube/Cinema21)

BaliinyourhandsFilm Pangku karya Reza Rahadian kembali menegaskan bahwa sinema Indonesia sedang berada di fase terbaiknya—jujur, intim, dan berani membedah kehidupan manusia lewat lensa yang apa adanya.

Berlatar di pantai pesisir Cirebon dengan suasana kehidupan nelayan dan pasar ikan yang mengandung banyak cerita, Pangku membawa penonton masuk ke realitas seorang ibu tunggal yang berjuang mempertahankan hidup, memeluk luka, dan merawat harapan yang rapuh.

Sartika (Claresta Taufan) adalah poros dari film ini—seorang perempuan muda yang tengah hamil delapan bulan, terombang-ambing antara kebutuhan bertahan hidup dan upaya menjadi ibu yang baik untuk anak pertamanya, Bayu.

Baca Juga: Menakjudkan! Bali After Dark Menjelajahi Sisi Malam Pulau Dewata

Reza Rahadian meracik suasana dengan penuh empati, menghadirkan visual natural dan dialog yang minim, tetapi sarat lapisan emosi. Christine Hakim hadir dengan kharismanya sebagai Maya, pemilik warung yang menjadi penentu arah hidup Sartika.

Aktingnya solid, hangat, dan menjadi titik cahaya dalam perjalanan tokoh utama. Sementara Fedi Nuril sebagai Hadi tampil tanpa banyak dialog yang justru membuat penonton ikut percaya, sebelum akhirnya patah bersama Sartika.

Di balik narasi yang tampak sederhana, Pangku memuat tiga pesan kuat yang terasa begitu relevan bagi banyak perempuan, terutama ibu tunggal yang sering harus melawan dunia sendirian.

Baca Juga: Delusi Saham: Pengertian, Penyebab, dan Cara Menghindarinya dalam Dunia Investasi Modern

1. Sistem pendukung tidak selalu datang dari keluarga

Pangku menunjukkan realitas yang jarang dibahas secara eksplisit: bahwa tidak semua perempuan mendapatkan dukungan keluarga ketika mereka membutuhkannya. Dalam banyak kasus, pertolongan justru datang dari orang-orang yang tidak memiliki ikatan darah.

Dalam film ini, Maya menjadi contoh paling nyata. Ia bukan keluarga Sartika. Mereka bahkan baru saling mengenal. Namun, Maya membuka pintu rumah dan ruang hidupnya untuk Sartika—memberinya pekerjaan, tempat tinggal, dan rasa aman yang tak ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.

Christine Hakim bermain begitu natural seolah Maya adalah sosok yang bisa kita temui di sudut-sudut Indonesia: perempuan tangguh yang diam-diam menjadi fondasi bagi perempuan lainnya. Film ini mengingatkan penonton bahwa keluarga bisa hadir dalam berbagai bentuk, bahkan dari seseorang yang tadinya asing.

2. Pola hidup sering berulang ketika kita belum berdamai dengan masa lalu
Salah satu pesan paling menyentuh dari Pangku adalah tentang pola yang berulang. Sartika jatuh cinta pada Hadi, seorang pria sederhana yang memberi perhatian pada dirinya dan Bayu. Hubungan itu tampak seperti peluang baru—titik balik yang ia butuhkan. Namun ketika Hadi pergi dan meninggalkannya, Sartika kembali berada di titik yang sama: seorang ibu tunggal yang harus mengurus anak tanpa pasangan di sisinya.

Ini bukan hanya kisah fiksi. Banyak perempuan menghadapi situasi serupa. Tanpa proses memulihkan luka lama, seseorang bisa saja terjebak dalam pola yang sama—mencari cinta di tempat yang juga menyimpan kemungkinan kehilangan.

3. Anak tetap membutuhkan figur ayah, meski tidak harus dari ayah kandung

Salah satu bagian paling hangat dari film ini adalah relasi Bayu dengan sosok ayah pengganti—baik dari Hadi maupun dari kakek-suami Maya. Mereka hadir sebagai figur yang membimbing, mengajarkan, dan melengkapi kebutuhan emosional seorang anak yang tumbuh tanpa ayah kandung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Eurekawoman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X