• Sabtu, 18 April 2026

Dramatis! Pendaki 100 Kg Jatuh di Gunung Lawu, 20 Relawan Berjuang 5 Jam Menyelamatkan di Medan Terjal 

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Minggu, 2 Februari 2025 | 18:00 WIB
Dramatis! Pendaki 100 Kg Jatuh di Gunung Lawu, 20 Relawan Berjuang 5 Jam Menyelamatkan di Medan Terjal  (veronica ellen)
Dramatis! Pendaki 100 Kg Jatuh di Gunung Lawu, 20 Relawan Berjuang 5 Jam Menyelamatkan di Medan Terjal  (veronica ellen)

Bali In Your Hands - Gunung Lawu kembali menjadi saksi sebuah insiden dramatis ketika seorang pendaki berbobot 100 kg terjatuh dan tidak mampu melanjutkan perjalanan turun. Kejadian yang terjadi di jalur pendakian Cemoro Sewu ini memaksa 20 relawan bekerja keras selama lima jam untuk mengevakuasi korban melintasi jalur berbatu dan licin. Proses penyelamatan yang penuh tantangan ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya persiapan fisik, mental, serta solidaritas di dunia pendakian. 

 Baca Juga: Tipat Blayag Kuah Warisan Kuliner Buleleng yang Kaya Rasa

Kronologi Kejadian: Pendaki Kelelahan dan Terjatuh di Jalur Curam

Insiden ini terjadi pada Minggu siang (tanggal sesuai kejadian) ketika A (40), seorang pendaki asal (asal daerah), bersama tiga rekannya mendaki Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur. Setelah mencapai puncak dan beristirahat sejenak, mereka memutuskan untuk turun pada sore hari. Namun, di tengah perjalanan turun, A mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem. 

 Baca Juga: Aktivitas Menarik bagi Turis Lokal Selama Bulan Ramadhan di Bali

Menurut kesaksian rekan-rekannya, A beberapa kali berhenti untuk mengatur napas dan mengeluhkan kakinya yang mulai terasa lemah. Sekitar satu jam perjalanan turun, tepatnya di sekitar pos 3, A kehilangan keseimbangan akibat kelelahan dan terjatuh ke sisi jalur berbatu. Beruntung, ia tidak jatuh terlalu jauh atau mengalami cedera serius, tetapi kondisinya semakin lemah dan tidak mampu melanjutkan perjalanan sendiri. 

Mengetahui situasi darurat ini, rekan-rekan A segera menghubungi tim SAR dan relawan yang bertugas di basecamp Cemoro Sewu. Tak butuh waktu lama, tim penyelamat pun segera bersiap untuk mengevakuasi korban. 

Tim penyelamat yang terdiri dari 20 relawan dari berbagai komunitas pencinta alam, SAR Lawu, dan petugas basecamp segera menuju lokasi untuk mengevakuasi korban. Mengingat berat badan A yang mencapai 100 kg dan kondisi medan yang curam serta berbatu, evakuasi menjadi tantangan tersendiri.

Setelah tiba di lokasi, tim penyelamat segera melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi korban. Meskipun tidak mengalami patah tulang, A mengalami kelelahan parah dan dehidrasi ringan. Oleh karena itu, keputusan diambil untuk menggunakan tandu darurat agar proses evakuasi lebih aman. Tandu dibuat dari bahan yang telah disiapkan oleh tim SAR, dilengkapi dengan tali pengikat untuk menjaga kestabilan korban selama perjalanan menurun. 

Jalur turun yang harus dilalui tim penyelamat cukup ekstrem. Dengan sudut kemiringan yang tajam dan kondisi tanah berbatu serta licin akibat embun sore, mereka harus bekerja ekstra hati-hati. Beberapa titik turunan curam memaksa mereka untuk bergantian menahan beban agar korban tidak tergelincir. Setiap beberapa ratus meter, mereka harus berhenti untuk memastikan kondisi korban tetap stabil dan memberi kesempatan kepada tim penyelamat untuk beristirahat. Bobot tubuh yang besar serta kondisi korban yang sudah sangat lelah membuat evakuasi berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Proses evakuasi yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu lebih singkat akhirnya memakan waktu hingga lima jam. Relawan yang bergantian menggotong tandu terus menyemangati korban agar tetap sadar dan tidak mengalami hipotermia. 

Setelah perjalanan panjang dan penuh perjuangan, korban akhirnya berhasil dibawa sampai ke basecamp Cemoro Sewu sekitar pukul (jam sesuai kejadian). Di sana, tim medis yang telah bersiap langsung memberikan pertolongan pertama, memastikan kondisinya stabil sebelum memutuskan apakah perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan lebih lanjut. 

Insiden ini menjadi pengingat bagi para pendaki bahwa mendaki gunung bukan sekadar wisata alam, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang. Kejadian ini juga menjadi bukti bahwa solidaritas di dunia pendakian masih sangat kuat. Para relawan yang tanpa pamrih turun tangan untuk membantu korban menunjukkan betapa pentingnya kepedulian terhadap sesama. 

Gotong royong dan jiwa kemanusiaan inilah yang menjadi nilai luhur dalam dunia pendakian. Setiap pendaki bukan hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga terhadap sesama yang berada di jalur yang sama. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Terkini

X