Kami punya sampel makanan setiap hari, dan semuanya bersih. Kalau memang ada belatung, seharusnya sudah mati,” ujarnya.
Untuk meningkatkan pengawasan, Dadan memastikan bahwa SOP program MBG telah diperketat. “Sekarang setiap makanan sebelum dikirim harus divideokan dan difoto.
Kami perlu tahu kenapa saat sampai di sekolah, tiba-tiba ada belatung di ompreng,” tegasnya. Selain itu, Dadan juga menyatakan bahwa evaluasi dilakukan setiap hari agar kejadian serupa tidak terulang. “Kami selalu rapat sore hari membahas kendala yang terjadi, dan langsung diperbaiki keesokan harinya,” jelasnya.
Kepanikan vs Fakta: Program MBG Masih Bisa Diselamatkan?
Insiden ini menyoroti tantangan besar dalam implementasi program MBG. Di satu sisi, temuan belatung dan kasus sakit perut pada siswa menjadi peringatan keras terhadap aspek kebersihan dan standar kualitas makanan.
Di sisi lain, kejanggalan dalam temuan ini juga menimbulkan spekulasi mengenai faktor lain yang mungkin berperan.
Terlepas dari kontroversi ini, satu hal yang pasti: jika program MBG ingin terus berjalan, perbaikan sistem, peningkatan pengawasan, dan evaluasi berkala harus menjadi prioritas utama.
Kepercayaan publik adalah kunci, dan hanya transparansi serta profesionalisme yang bisa memastikan bahwa insiden serupa tidak terjadi lagi.
Seperti kata pepatah, "Makanan yang sehat bukan hanya soal rasa, tapi juga soal kepercayaan."