national-news

Apa Itu Eco-Anxiety dan Bagaimana Krisis Iklim Mempengaruhi Kesehatan Mental?

Jumat, 3 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Krisis iklim bisa menimbulkan gangguan kecemasan (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Fenomena perubahan iklim bukan hanya menimbulkan dampak pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan mental manusia.

Salah satu istilah yang semakin sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir adalah eco-anxiety atau kecemasan lingkungan. Istilah ini merujuk pada rasa khawatir, gelisah, atau bahkan ketakutan yang timbul akibat kesadaran terhadap kerusakan lingkungan dan ancaman krisis iklim.

Meski belum diakui secara resmi sebagai gangguan kejiwaan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), eco-anxiety menjadi isu nyata yang dialami banyak orang, khususnya generasi muda.

Baca Juga: Zodiac Kopi Karangasem: Kafe Murah dengan Suasana Nyaman dan Wi-Fi Kencang

Apa Itu Eco-Anxiety?

Eco-anxiety bisa digambarkan sebagai rasa cemas berlebihan terhadap kondisi bumi. Gejalanya dapat berupa kesedihan mendalam saat mendengar berita bencana alam, rasa putus asa akan masa depan, hingga sulit tidur karena memikirkan dampak perubahan iklim. Menurut beberapa penelitian psikologi lingkungan, eco-anxiety bukan sekadar “kepedulian berlebihan”, melainkan bentuk reaksi emosional yang wajar dari meningkatnya kesadaran manusia terhadap krisis iklim.

Generasi muda, terutama Gen Z, disebut lebih rentan mengalaminya. Mereka tumbuh dalam era di mana krisis iklim menjadi sorotan utama, dari kebakaran hutan yang semakin sering terjadi hingga kenaikan suhu global. Hal ini diperparah dengan derasnya arus informasi di media sosial, yang membuat isu lingkungan tak pernah lepas dari keseharian.

Krisis Iklim dan Dampaknya pada Psikologi

Krisis iklim secara langsung berhubungan dengan kesehatan mental. Banjir, kekeringan, badai tropis, atau kebakaran hutan bukan hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang panjang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebutkan bahwa perubahan iklim adalah salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global di abad ke-21, termasuk kesehatan mental.

Baca Juga: Daftar Selebriti Dunia yang Kerap Berlibur ke Bali, Termasuk Kim Kardashian dan Usher

Selain trauma akibat bencana, ada pula dampak tidak langsung berupa rasa tidak berdaya. Misalnya, masyarakat yang hidup di pesisir melihat tanah mereka perlahan tergerus air laut. Rasa kehilangan rumah dan identitas budaya akibat ancaman tersebut bisa menimbulkan kecemasan kolektif.

Bagaimana Menghadapinya?

Meski terdengar menakutkan, eco-anxiety juga bisa dimaknai sebagai tanda kepedulian. Rasa cemas dapat menjadi pemicu untuk bertindak, baik secara individu maupun kolektif. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan eco-anxiety antara lain:

  • Mengambil tindakan nyata, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beralih ke transportasi ramah lingkungan, atau mendukung produk berkelanjutan.

  • Berkomunitas, karena bergabung dengan kelompok peduli lingkungan bisa mengurangi rasa terisolasi dan menumbuhkan optimisme.

  • Membatasi konsumsi berita negatif, dengan tetap terinformasi secara sehat tanpa membiarkan diri larut dalam informasi yang menimbulkan kepanikan.

  • Mencari bantuan profesional, jika kecemasan sudah mengganggu kualitas hidup sehari-hari.

Halaman:

Tags

Terkini