Baliinyourhands.com - Di tengah lanskap kopi global yang dinamis, nama Starbucks sempat tak tergoyahkan sebagai simbol gaya hidup urban. Namun, belakangan ini, gerai ikonik berlogo putri duyung itu mulai menghadapi tantangan yang tidak biasa—bukan dari kompetitor, melainkan dari sebagian konsumennya sendiri.
Boikot terhadap Starbucks mengemuka di Indonesia, menyusul gelombang protes global terhadap dugaan keterkaitan merek ini dengan dukungan terhadap Israel. Isu ini mencuat ke permukaan seiring dengan meningkatnya sensitivitas publik atas konflik berkepanjangan di Palestina.
Di media sosial, tagar-tagar seperti #BoikotStarbucks dan #FreePalestine mendampingi unggahan yang menyerukan agar masyarakat berhenti membeli produk Starbucks, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Baca Juga: Jabarano Coffee: Kedai Kopi Asal Jawa Barat yang Menaklukkan Ubud, Melbourne, hingga Seoul
Salah satu alasan pemicu boikot ini adalah sosok Howard Schultz, mantan CEO Starbucks yang merupakan keturunan Yahudi. Meski secara terbuka Schultz tidak pernah menyatakan dukungan langsung terhadap kebijakan Israel, identitas etnisnya menjadi bahan sorotan dan asumsi publik.
Dalam beberapa unggahan viral, Schultz disebut-sebut mendanai kepentingan pro-Israel—klaim yang hingga kini belum pernah terbukti secara faktual.
Namun, penting untuk dipahami bahwa Starbucks di Indonesia beroperasi di bawah naungan PT Sari Coffee Indonesia, yang merupakan bagian dari Mitra Adiperkasa (MAP) Group, perusahaan ritel besar Tanah Air. Dalam keterangan resminya, PT Sari Coffee Indonesia menyatakan tidak memiliki hubungan afiliasi politik apa pun dan mengklaim bahwa semua operasional bisnisnya bersifat independen dan fokus pada penyediaan layanan kepada pelanggan.
Baca Juga: Menguak Kopi Luwak Bali: Keunikan, Proses Alami, dan Seni Roasting yang Mendunia
“Starbucks Indonesia tidak menyalurkan dana atau dukungan kepada pihak mana pun di luar kegiatan usaha dan sosial berskala lokal yang sudah kami jalankan sejak lama,” tulis MAP dalam siaran pers pada Maret 2024.
Kendati sudah mengeluarkan klarifikasi, narasi boikot terus berkembang. Beberapa warganet mengunggah video mereka sedang membuang gelas Starbucks atau memilih kopi lokal sebagai alternatif. Fenomena ini tidak hanya terjadi secara daring—di lapangan, penurunan pengunjung mulai terasa di sejumlah gerai.
Salah satu barista Starbucks di kawasan Jakarta Selatan yang enggan disebut namanya menyatakan bahwa penurunan jumlah pelanggan memang mulai terasa sejak isu ini mencuat. “Biasanya, jam makan siang dan sore itu ramai. Tapi sekarang agak lengang, bahkan di akhir pekan,” ujarnya.
Baca Juga: Asal Usul Easter Bunny: Simbol Kemeriahan Paskah yang Penuh Makna Di Balik Kelucuannya
Menurut data sementara dari perusahaan riset pasar independen, terdapat indikasi awal adanya penurunan pendapatan harian di beberapa cabang metropolitan hingga 15% sejak awal tahun 2025. Meski demikian, belum ada laporan resmi dari MAP terkait penurunan penjualan secara nasional.
Di sisi lain, boikot ini justru membuka ruang bagi gerakan mencintai produk lokal. Kedai kopi independen dan UMKM sektor F&B mendapatkan eksposur lebih besar. Beberapa gerai lokal bahkan membuat kampanye “kopi berdaulat” sebagai bentuk ajakan untuk memilih produk dalam negeri.
Artikel Terkait
Fantastis! Penyerapan Dalam Negeri Yang Dilakukan oleh Perum BULOG Sudah Mencapai 800 Ribu Ton Setara Beras
Flora Christin: Berselancar Cantik Dengan Kebaya di Bali
7 Makanan Indonesia Masuk Daftar 50 Street Food Terbaik Dunia versi TasteAtlas 2025, Ini Daftarnya!
Film Joko Anwar Pengepungan di Bukit Duri: Pembelajaran Tak Terlupakan tentang Menghentikan Siklus Kekerasan
Asal Usul Easter Bunny: Simbol Kemeriahan Paskah yang Penuh Makna Di Balik Kelucuannya