Meski situasi ini menantang, para analis menilai bahwa daya tahan merek Starbucks di Indonesia belum sepenuhnya runtuh. “Starbucks sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban di Indonesia. Efek boikot ini nyata, tapi belum tentu permanen,” kata Maya Anindita, pakar pemasaran dari Universitas Indonesia.
Menurut Maya, kunci dari kelangsungan merek global di era yang semakin politis adalah transparansi dan komunikasi yang peka terhadap isu kemanusiaan. Ia menyarankan agar merek-merek besar mulai berani bersikap, bukan sekadar memberi klarifikasi normatif.
Sebagai konsumen, pilihan kita di meja kopi kini bukan lagi sekadar soal rasa dan gaya, tetapi juga nilai dan keberpihakan. Boikot terhadap Starbucks Indonesia menjadi cerminan bahwa konsumen masa kini semakin sadar dan vokal. Apakah ini hanya gelombang sesaat atau awal dari perubahan permanen dalam preferensi konsumen Indonesia? Waktu yang akan menjawabnya—mungkin sambil menyesap kopi dari cangkir yang berbeda.