national-news

Mengungkap Proses Konklaf: Tradisi Tertutup Pemilihan Paus yang Sarat Sejarah dan Misteri

Selasa, 22 April 2025 | 16:30 WIB
Proses Konklaf tradisi sejak tahun 1274 untuk memilih Paus baru (pexels/jvgardens)

Baliinyourhands.com - Di balik dinding-dinding tebal Kapel Sistina, sebuah prosesi kuno yang berlangsung dalam kesunyian dan penuh simbolisme terus dipertahankan selama berabad-abad: Konklaf, momen ketika Gereja Katolik memilih pemimpin barunya, Paus.

Bagi banyak orang di luar Vatikan, Konklaf adalah rangkaian upacara misterius yang nyaris seperti ritual dalam novel Dan Brown—tertutup, penuh rahasia, dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang terpilih.

Namun di balik kerahasiaannya, Konklaf adalah gambaran dari kehormatan, spiritualitas, dan kekuasaan dalam bentuk yang sangat terstruktur dan tradisional.

Baca Juga: 24 Jam Pertama di Ubud, Bali: Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Tiba Dari Penerbangan Internasional

Sejarah Konklaf: Dari Krisis Hingga Kode Kuno

Kata conclave berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti "dengan kunci". Maknanya tidak hanya simbolik, tapi juga harfiah—para kardinal dikunci secara fisik di tempat tertentu hingga mereka menghasilkan keputusan bulat tentang siapa yang akan menjadi pemimpin Gereja berikutnya.

Tradisi ini berawal dari abad ke-13, tepatnya tahun 1274, saat Paus Gregorius X menetapkan aturan konklaf melalui dekrit Ubi periculum. Keputusan ini dibuat setelah pengalaman pahit: setelah kematian Paus Klemens IV, Gereja Katolik harus menunggu hampir tiga tahun sebelum Paus baru terpilih.

Ketika itu, rakyat kota Viterbo bahkan menyegel kardinal di dalam ruangan dan mencabut atap bangunan agar mereka lekas membuat keputusan. Dari sanalah semangat "dikunci sampai sepakat" menjadi protokol resmi.

Baca Juga: 7 Alasan Kenapa Kamu Harus Segera Pesan Tiket ke Bali Sekarang Juga

Di Balik Pintu Tertutup: Apa yang Terjadi?

Saat seorang Paus wafat atau mengundurkan diri, seperti yang terjadi pada Paus Benediktus XVI pada 2013, Gereja Katolik memasuki masa yang disebut Sede Vacante—takhta kosong. Kardinal dari seluruh dunia kemudian dipanggil ke Roma untuk memulai proses konklaf. Para kardinal ini bukan sekadar tokoh agama; mereka adalah para pembuat keputusan spiritual dan politik yang sangat berpengaruh dalam dunia Katolik.

Sebelum pemungutan suara dimulai, seluruh area Kapel Sistina diperiksa secara menyeluruh agar tak ada alat komunikasi yang dapat membocorkan proses ke luar. Bahkan para petugas rumah tangga Vatikan yang terlibat diminta untuk bersumpah menjaga kerahasiaan penuh.

Pakaian mereka pun bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari liturgi: jubah merah, topi hitam, dan kalung salib emas menandai kekhidmatan peristiwa ini. Para kardinal lalu menulis nama kandidat pilihan mereka di secarik kertas, lalu melipatnya dan meletakkannya di atas piring emas sebelum menjatuhkannya ke dalam urna.

Baca Juga: 7 Liburan Hijau Terbaik di Bali yang Bikin Hati Adem

Jika tidak ada dua pertiga suara yang dicapai, surat suara dibakar bersama bahan kimia khusus yang menghasilkan asap hitam. Ketika Paus baru akhirnya terpilih, surat suara dibakar dengan bahan kimia lain yang menghasilkan asap putih—tanda yang langsung disambut sorak-sorai oleh ribuan orang di Lapangan Santo Petrus.

Simbol, Doa, dan Kekuatan

“Konklaf bukan sekadar pemilu gereja,” ujar Prof. Massimo Faggioli, sejarawan gereja dari Villanova University, kepada The New York Times. “Ini adalah proses spiritual di mana para kardinal percaya bahwa mereka dibimbing oleh Roh Kudus.” Kutipan ini memberi gambaran bahwa di balik aspek politik dan kekuasaan, ada rasa tanggung jawab spiritual yang sangat mendalam.

Halaman:

Tags

Terkini