• Sabtu, 18 April 2026

4 Fakta di Balik Shooting Film “Sampai Jumpa, Selamat Tinggal”: Dari Bangun Chemistry lewat Tango Dance Sampai Les Privat Bahasa Korea Putri Marino

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Kamis, 27 Februari 2025 | 20:00 WIB
Fillm Indonesia kembali memakai latar belakang negara Korea (Release/Adhyapicture)
Fillm Indonesia kembali memakai latar belakang negara Korea (Release/Adhyapicture)

Baliinyourhands.comProses shooting film di luar negeri bukanlah hal yang mudah. Mencari lokasi, kru yang terbatas, cuaca yang tak terduga, hingga perbedaan budaya, harus dihadapi para filmmakers.

Namun memang akhir-akhir ini makin banyak film Indonesia yang diambil dengan setting lokasi di luar negeri karena lebih menarik dan romantis serta digandrungi penonton muda.

Namun, semua tantangan itu justru menambah warna dalam pembuatan film “Sampai Jumpa, Selamat Tinggal” (Goodbye, Farewell), sebuah drama romantis garapan sutradara Adriyanto Dewo, yang melakukan shooting-nya di Korea. 

Baca Juga: Mau Disukai Media Sosial? Pahami Algoritmanya!

Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Relate Films, film ini mengisahkan Wyn (Putri Marino)  yang di-ghosting oleh pacarnya, Dani (Jourdy Pranata) ke Korea Selatan. Wyn kemudian bertekad untuk mencari Dani (Jourdy Pranata). Di perjalanan, Wyn bertemu dengan Rey (Jerome Kurnia), yang kemudian membantunya. Namun pencarian ini malah membuat keduanya semakin dekat dan mengalami momen-momen tak terduga.

Sebelum tayang tahun ini, simak sejumlah fun fact di balik cerita dan proses shooting film Sampai Jumpa, Selamat Tinggal di Korea:

1) Terinspirasi dari fenomena Johatsu

Sutradara Adriyanto Dewo tergugah dengan fenomena sosial di Jepang bernama Johatsu, di mana seseorang memilih menghilang tanpa jejak untuk menghindari masalah pribadi, tekanan sosial, hutang, atau memulai hidup baru tanpa diketahui orang lain.

Baca Juga: Jusuf Kalla Sebut ‘Kabur Aja Dulu’ Jadi Ajang Anak Muda Mengenal Budaya Luar, Khusus Buat yang Ingin Belajar hingga Bekerja

“Para tokoh di film ini bukan sekedar menghilang secara fisik, tetapi juga meninggalkan seluruh hidup mereka. Bisa dibilang yang mereka lakukan ini sebuah upaya untuk melanjutkah hidup meski caranya tidak ideal, dan ini menarik untuk diangkat” jelas Adriyanto Dewo.

2) Tak hanya shooting di Seoul

Shooting film tidak hanya di kota Seoul (Release/Adhyaksafilm)

Demi melanjutkan hidup, para tokoh di film ini diceritakan datang ke Korea dan bekerja sebagai TKI. Sayangnya, karena berstatus pekerja ilegal, mereka harus siap berpindah-pindah kota, bahkan negara. Untuk itu, shooting film ini dilakukan di tiga kota di Korea, yaitu Seoul, Dangjin, dan Seosan.

Kontras dengan Seoul yang penuh gedung-gedung modern, Dangjin dan Seosan yang berjarak sekitar 90 KM dari Seoul merupakan kota industri dan pelabuhan yang lebih sederhana. Penonton akan diajak melihat sisi lain Korea Selatan yang jauh lebih hening dan sederhana, terasa pas sebagai tempat pelarian tokoh-tokoh di film ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: press release

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X